Ditulis oleh Jaslit Rabu, 16 Mei 2012 16:11
Training Of Trainers (TOT) “Agribisnis Kedelai” kembali diberikan kepada 30 peserta pelatihan Balai Besar Penyuluh Pertanian Ketindan Jawa Timur. Materi dan praktek lapang budidaya kedelai dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Balitkabi, tepatnya di Jambegede Malang, tanggal 8-10 Mei 2012. Para peserta adalah petugas penyuluh dari Prov. Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Imam Sutrisno, SP, kepala KP Jambegede berharap semua peserta TOT bisa menerapkan dan menularkan pengalaman “Agribisnis Kedelai” kepada masyarakat khususnya para petani. Dengan demikian produktivitas pertanaman kedelai bisa memuaskan sehingga taraf kehidupan petani menjadi lebih baik.
Baca selengkapnya: Training Of Trainers Agribisnis Kedelai di KP. Jambegede



Sebagai pemakalah pada Seminar dua mingguan di Puslitbangtan Bogor, pada tanggal 10 Mei 2012 adalah Dr. Suharsono, MS yang menyampaikan topic Pembentukan Varietas Kedelai Tahan Ulat Grayak Spodoptera litura. Seminar dihadiri oleh 40 peserta dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Balitkabi, Dinas Pertanian kabupaten Bogor, Direktorat Perbenihan, Dirjentan, Kapuslitbangtan, dan staf.
Usianya memang sudah tidak muda lagi, tetapi semangat untuk menggeluti kedelai, tidak kalah dengan yang muda-muda. Jika berdiskusi tentang kedelai, bicaranya tegas, lugas. Saat pemulia kedelai Balitkabi (Muchlish Adie) hadir pada pelatihan PTT Kedelai di Bantul, Ibu Retno (peneliti BPTP Jateng), mengajak Pak Dono mengobrol, dan beliau yang datang dari rumahnya di Kecamatan Pandak, Bantul, bergegas hadir dengan senang hati.
Tidak hanya berjulukan kota pelajar dan kota budaya. DIY menyimpan potensi sebagai produsen kacang tanah, salah satunya di Kabupaten Gunung Kidul. Dengan 18 Kecamatan dan 144 desa, Kabuaten Gunung Kidul didominasi oleh lahan kering. Walaupun demikian, jangan heran, Statistik Kabupaten Gunung Kidul menunjukkan rata-rata produksi kacang tanahnya tertulis 8,31 t/ha polong basah dan di salah satu kecamatan yakni Karang Mojo tertera 8,97 t/ha polong basah. Memang cukup tinggi, dibandingkan rata-rata produksi nasional.



