Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Balitkabi
  • Balitkabi
  • Balitkabi
  • Balitkabi
1. Digital Library
Prosiding
4. Stok Benih
2. Procurement

Ads on: Special HTML
Teknologi Produksi Ubikayu di Bawah Tegakan Pohon Jati di KPH Blora Jawa Tengah PDF Cetak E-mail
Senin, 07 Oktober 2013 14:52

Ubikayu mempunyai peran strategis  sebagai sumber  pangan, pakan dan bahan baku industri. Perkembangan produksi ubikayu di Indonesia  selama empat tahun terakhir mengalami peningkatan dari 18,2 juta ton menjadi 23,9 juta ton pada tahun 2012.  Produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat, ditambah lagi dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan ubikayu sebagai sumber energi alternatif (bioethanol) akan turut mendorong meningkatnya kebutuhan ubikayu. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut masih diperlukan peningkatan produksi sekitar 36%.

Peningkatan produksi diantaranya dapat dilakukan dengan penggunaan varietas unggul dan perluasan areal tanam. Banyak varietas unggul  berpotensi hasil tinggi 40–50 t/ha yang belum tersebar di seluruh sentra ubikayu. Salah satu peluang perluasan areal tanam adalah kawasan hutan jati muda (dibawah umur 5 tahun), baik pada HTI maupun HTR. Perhutani mengelola hutan produksi seluas 1,75 juta ha dan hutan lindung seluas 0,69 juta ha. Dr. Muslimin Nasution dalam seminar ‘Membangun Kemandirian Pangan’ di Jakarta menyampaikan bahwa apabila lahan hutan di Indonesia digarap 20% saja maka akan menghasilkan 378 juta ton ubikayu dan 324 juta kimpul per musim tanam.

Balitkabi  pada musim tanam 2013 bekerjasama dengan Perhutani KPH Blora melakukan penelitian teknologi produksi ubikayu di bawah tegakan pohon jati umur 2 tahun varietas unggul JPP (Jati Perbaikan Pati) yang mempunyai pertumbuhan cepat. Kayu jati ditanam dengan jarak 3 m x 3 m, tanah agak masam (5,3 – 5,9), kandungan N tanah sangat rendah (0,14 %), C organik rendah (1,89%), Kalium rendah 0,37 me/100g, tetapi kadar P2O5 tinggi (19,46 ppm).  Varietas ubikayu yang ditanam adalah Cecek Ijo, Malang-4, Litbang UK-2, Adira-4 dan UJ-5, masing-masing ditanam dengan jarak 100 cm x 80 cm di antara lorong tanaman jati, sehingga populasi tanaman mencapai 6.000 tanaman/ha (50% dari populasi monokultur). Input yang diberikan untuk ubikayu ada 3 macam yaitu: a) 100 kg Urea+125 kg SP-36+75 kg KCl (input rendah), b) 125 kg Urea+150 kg SP-36+100 kg KCl (input sedang) dan c) 200 kg Urea+200 kg SP-36+125 kg KCl+3 t kompos (input tinggi) (Gambar 1 dan 2).  

   

Ubikayu varietas MLG-4 memberikan hasil tertinggi pada semua perlakuan input dibanding varietas yang lain (Tabel 1). Hasil umbi segar tertinggi (34,16 t/ha) dicapai pada input tinggi diikuti perlakuan input sedang (33,00 t/ha), tetapi varietas MLG-4 dengan input rendah memberikan keuntungan lebih tinggi dibanding perlakuan input tinggi. Keuntungan yang dicapai varietas MLG-4 dengan input rendah mencapai Rp 16.097.000,00 (B/C rasio 3,38), input tinggi Rp 13.341.620,00 (B/C rasio 1,62), dan input sedang Rp12.488.280,00 dengan B/C rasio 2,62 (Tabel 1 dan 2). Hal ini berarti bahwa penggunaan varietas MLG-4 dengan penggunaan input sedang dapat dianjurkan dan tidak menutup kemungkinan bahwa penggunaan input rendah dapat dipertimbangkan pada lahan-lahan yang subur.

Tabel 1. Rata-rata hasil ubi segar beberapa varietas ubikayu di bawah tegakan jati umur 2 tahun di Blora.


Tabel 2. Rata-rata keuntungan bertanam ubikayu varietas MLG-4 di bawah tegakan jati umur 2 tahun.


Disiapkan oleh Ir. Budhi S. Radjit, MS. Diedit oleh Eriyanto Yusnawan, PhD



 
Joomla Templates by JoomlaVision.com